Karena banwidth adalah kebutuhan !!!

June 24, 2007

Karir, kemapanan dan AGAMA ………

Filed under: Tentang Hidup .... — mpiq @ 5:37 pm

Karir…….

Definisi pastinya sih saya ga tau tentang karir, tapi yang pasti identik dengan kemapanan ekonomi. Tapi terkadang miris aja kalo akhirnya Karir lebih diutamakan dibandingkan dengan agama yang kita anut. Knapa begitu ??

Banyak orang rela melakukan apa saja demi Karir, tapi sangat sedikit orang mau melakukan apa saja demi agama. Bahkan banyak orang yang menjadikan karir sebagai dasar hidup, sehingga terkesan kalo ga ada karir, ga bisa hidup. Begitu pula masih banyak orang yang tidak mau karirnya diputus begitu saja demi agama, lha apa contohnya ??

Menikah….. adalah salah satu tuntunan agama, jadi ketika pilihan menikah itu sudah kita tentukan, segala macam diluar aturan agama seharusnya bisa dikesampingkan. Laki-laki adalah kepala keluarga, dia yang bertanggung jawab dengan keadaan keluarga dan rumah tangga, sedangkan wanita adalah sebagai penjaga gawang dalam bahtera rumah tangga, menjaga martabat keluarga, oleh sebab itu kenapa disebut dalam agama itu “WANITA ADALAH TIANG AGAMA”.

Nah, ketika wanita yg memiliki karir (sebut saja kemudian wanita karir) harus menikah, banyak yang mengira ini adalah pilihan berat. Ketika sang suami menuntut istri untuk dirumah mengurus anak, sedangkan sang istri memiliki karir yang cemerlang, hal ini bisa menjadi sesuatu yang meruntuhkan agama karena akan menjadi masalah dalam keluarga ketika sang istri menolak…. Ya, menolak karena karirnya tidak mau terputus yang tentu saja dengan alasan ekonomi dan bla bla bla…. Jadi bukan hal yang aneh ketika akhirnya perceraian menjadi jalan terakhir karena sang istri merasa mampu untuk mengurus dirinya sendiri dengan karirnya itu. Sedangkan dalam tuntunan agama bercerai itu adalah hal yang di benci Allah. Tapi pilihan itu sering menjadi pilihan karena alasan “duniawi” toh si wanita karir bisa mancari pasangan lain yang berada diatas derajat karirnya, padahal usia “karir” cuma sampe lubang kubur aja, ya paling si bos dan pejabat yg nganter kita sampe kuburan, trus karir itu otomatis hilang dan berganti dengan pertanggungjawaban perbuatan selama di dunia….. Subhanallah….

Emansipasi wanita….. siapa sih yang menciptakan ??

Saya ngga tau pasti, yang jelas dalam ISLAM tidak ada hal tersebut. Allah membuat semua perbedaan itu, karena pasti ada alasannya dan kita tidak bisa mempertanyakan itu kepada Allah, sebagian alasan itu ada dalam Al-Qur’an…. Dan yang jelas, saya adalah salah satu manusia yang menolak Emansipasi Wanita, karena dalam kodratnya wanita tidak bisa melebihi laki2 dalam hal tertentu… misalnya menjadi pemimpin agama. Mengapa demikian, karena sangat banyak kelemahan yang dimiliki wanita, terkadang sang wanita tidak pernah mau mengakui atas keterbatasan2 tersebut… saya tidak bisa jelaskan apa kekurangan itu, tapi yang pasti Allah memiliki alasan yang tepat untuk meng-kodratkan wanita selalu dibawah laki2.

Menjalani dunia tidak berbeda jauh dengan kita menjalani ibadah, karena hal2 yang kita lakukan di dunia adalah ibadah. Dalam shalat berjamaah misalnya, selagi masih ada laki2 disitu, maka laki2 itu harus menjadi Imam dalam sholat berjamaah itu, meskipun laki2 itu ga pinter agama, ga jago baca qur’an dan ga bisa menghafal ayat, padahal didalam jamaah itu ada wanita yg bergelar “Ustadzah” yang artinya pemahaman agamanya melebihi laki2 tersebut…. Tapi apa bisa “Ustadzah” tersebut jadi imam ??

Itu adalah kenyataan, bahwasanya Allah menciptakan laki2 lebih dari wanita, oleh karenanya beban tanggung jawab laki2 sangat besar dibandingkan oleh wanita…

Namun, laki2 pun harus tau diri dengan kodratnya dia yang memiliki tanggung jawab besar. Dalam hal ini banyak pula kasus laki2 yang ga tau diri atas tanggung jawab ini. Oleh sebab itu, agama adalah dasar hidup dari setiap orang. Jika laki2 memahami agama yang dianut, maka dia pasti akan memahami dan menjalankan tanggung jawab dia dengan kodratnya sebagai laki2.

Yah, karir terkadang menutup mata kita terhadap dasar hidup yang sebenarnya, hal ini berlaku bagi laki2 dan wanita. Ketika karir laki2 diatas segalanya, banyak perbuatan yang menzalimi wanita (istrinya). Akhirnya tanggung jawab terhadap keluarga hilang atau terbengkalai.

Kembali ke karir, yang identik dengan kemapanan hidup. Sedangkan kemapanan hidup itu bagi saya bukanlah jaminan seseorang untuk bahagia. Agama saya mengharuskan umatnya untuk memiliki harta berlebih, fungsinya adalah untuk kontrol sosial, dengan umat yg berlebihan, maka akan bisa membantu umatnya yg kekurangan sehingga kesejahteraan bisa terjalin dan dialami oleh semua umat, dengan harta berlebih bisa lebih banyak beramal untuk kesejahteraan bersama. Memiliki harta berlebih tanpa dasar agama, hal ini yang berbahaya, saya ga mau jelaskan ini, karena gak perlu dijelaskan juga pastinya pembaca sudah tau apa itu.

Karir, juga bisa mempengaruhi pilihan dalam hidup. Ketika seseorang memilih pasangannya untuk menjalani hidup bersama, terkadang karir selalu menjadi hal yang terdepan dibandingkan dengan agama. Dan disini sebetulnya peran orang tua yang bijaksana bisa terlihat. Orang tua yang bijaksana akan lebih melihat sisi agamis terlebih dahulu dibandingkan sisi karir.

Orang tua yang bijak akan lebih mementingkan hukum agama dibandingkan hukum dunia. Orang tua yang bijak biasanya akan menyuruh anaknya cepat menikah jika sudah menentukan pasangannya daripada harus menunggu ngumpulin duit buat bikin pesta pernikahan. Karena pernikahan yang sah itu adalah saat kita Ijab Kabul didepan penghulu dengan prasyarat yang ditetapkan dan sesuai dengan hukum agama yaitu mas kawin dan saksi, bukannya dengan harus memberi uang puluhan hingga ratusan juta kepada calon mertua buat bikin pesta pernikahan….

Seorang sahabat berkata… “Realistis donk, emang kamu mau kasih makan apa anak orang ntar ??”

Yess, i knew that… Tapi apakah kita harus memaksakan sisi realistis dibandingkan sisi agama yg sesungguhnya sangat lebih penting dan menurut saya itulah yang paling penting ??

Masalah makan, itu sudah menjadi tanggung jawab bersama, karena saat saya menentukan untuk melangkah ke jenjang ini, tentu saja semua resiko harus ditanggung bersama keduabelah pihak, dan saya yakin ALLAH tidak akan tidur dalam hal ini, karena apa yang kita lakukan untuk keyakinan kita kepada ALLAH semata….

” Menikahlah kamu jika telah memilih pasangan hidup, jangan engkau takut dengan Rizki-KU ”

Kenyataannya saya banyak melihat dari keluarga saya yang sederhana sampai sahabat2 saya yang hidup sederhana bahwa menikah dengan keyakinan karena ALLAH terbukti pintu rejeki mereka tidak pernah tertutup, apalagi jika telah memiliki anak…. ada yang bilang itu adalah “rejeki anak”….. who else🙂

Dan yang utama adalah restu orang tua yang berdasarkan atas agama, bukan berdasarkan atas karir, kemapanan dan realitas…. Disini memang pihak orang tua harus menyikapi dengan bijak, karena masa depan anaknya akan menjadi tanggung jawab anaknya itu sendiri….. (Dear, smoga nanti klo kita jadi orang tua harus sangat bijaksana dalam hal ini yahh…)

Harta, karir dan segalanya masih bisa diwujudkan dengan segala hal, namun kadang kita selalu ditutup mata dengan hal yang disebut “realistis” tadi. Padahal kalo kita melihat lebih kebawah, ada kok yang menikah di depan ustadz yang ga dibayar karena mereka ga mampu membayar, masih banyak orang menikah dengan pesta seadanya karena mengutamakan sisi agamis dan tanggung jawab umat kepada Allah (hablum-minallah)…

Namun sayang disayang, masih banyak di jaman ini orang tua yang lebih malu sama orang lain dibandingkan untuk malu kepada Allah, sehingga dengan alasan bukti tanggung jawab, tradisi keluarga dan bla bla bla yang lain, selalu ada tuntutan kepada calon menantu seperti harus nyiapin uang puluhan juta, harus pake adat ini, harus ngundang ini, nikah di gedung ini, dan bla bla bla lain yang macem2.

Sebagai laki2 yang akan menjadi calon suami, tentu saja hal itu sudah terpikirkan. Pernikahan tentunya harus ijab kabul, membawa mas kawin, terdapat saksi dan ada yang men-sah-kan, itu hukum wajibnya. Sedangkan Walimah (resepsi) hukumnya sunnah, oleh karenanya bisa dilakukan jika memiliki harta yang berlebih, namun tentunya bukan dengan cara yang berlebihan.

Tapi lucunya di jaman ini, kalo hukum wajibnya (yaitu menyediakan mas kawin) justru ngga seberapa….. kita bisa lihat kebanyakan mas kawin adalah seperangkat alat shalat & qur’an (yang mungkin ga pernah diamalkan karena ga pernah solat dan ngaji) yang harganya umumnya ga sampe 1 juta atau mas kawin dibikin nyeleneh misalnya dengan uang Rp. 9.999 yang mungkin angka itu berarti bagi pasangan tersebut atau hal2 aneh lainnya, padahal menurut hukumnya mas kawin itu adalah wajib dan nantinya dipertanggungjawabkan dimata Allah.

Sedangkan kalo hukum sunnah-nya (Walimah / resepsi) bisa menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan juta, yang seharusnya biaya itu bisa dipakai untuk menjalani bahtera rumah tangga, tapi ludes cuma untuk mengerjakan hal yang sunnah dan malahan lebih sering menjadi beban rumah tangga karena biasanya memaksakan walimah / resepsi ini dengan berhutang….

Yahhh…. mungkin ini hanya sekedar tulisan tanpa arti ditengah hiruk pikuknya kebutuhan manusia dalam hidup, yang pasti sepertinya kemapanan hidup selalu menjadi tokoh utama. Sebuah fenomena aneh bagi saya, tapi mungkin saya yang disebut aneh oleh orang2 yg meng-agungkan kemapanan hidup sebagai “agama #1″……

Saya juga bingung euy knapa saya tiba2 pengen nulis beginian…… hehehehehehe😀

1 Comment »

  1. “Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lainnya (kaum wanita), dankarena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh ialah yang ta’at (kepada Allah Ta’ala dan kepada suaminya) lagi memelihara diri ketika suaminya sedang tidak ada, berikat pemeliharaan Allah terhadap mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

    itu kutipan yg diambil dari slah satu blog, yang pd dasarnya sma dgn tulisan di atas.
    Tapi kl mnurut snty emansipasi wanita itu bukan saja di pandang bahwa wanita itu sebagai pemimpin yg posisinya berada di atas pria, tapi emansiapasi wanita dalam proses kehidupan sehari-hari,yah istilahnya punya power di dalam rumh tangga, ataupun di masyarakat, tp jg tidak terlepas dari kutipan di atas, bahwa Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.

    hmm..bner kl memandang harta, kekuasaan itu bukanlah hal utama dlm menjalani kehidupan, kerena kita ga tau sampai mana kita bisa bertahan sperti itu, ALLAH maha adil, Dia pasti tau mna yang terbaik utk umatnya. tp kembali lg ke kehidupan skrg,harta n kekuasaan bisa di blg slah satu kebutuhan, asal bisa di raih n di jalanin dengan jln yg bener n di Ridhoi Allah.

    n the last : “Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.”

    Comment by sAn — June 24, 2007 @ 6:19 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: