Karena banwidth adalah kebutuhan !!!

March 9, 2007

DownWind (Tailwind)… ADAM beruntung, GARUDA tidak…

Filed under: Analisa — mpiq @ 12:02 am

adam-patah.jpgga-crash.jpg

Mohon maaf, terutama kepada keluarga dari para penumpang Garuda Indonesia yang kecelakaan di Jogja, tulisan ini bukan untuk membela siapapun. Saya yang menulis ini ikut berbelasungkawa atas terjadinya musibah ini.

Dalam dunia penerbangan yang saya pelajari dan saya lakoni dulu, bahwa dalam sebuah penerbangan itu setiap detiknya selalu tidak lepas dari maut. Peribahasa bahwa “Selalu ada petaka bahkan dilangit yang luaspun” seakan menjadi pertanda bahwa kecelakaan bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan yang paling sering tanpa disadari.

Kembali ke kecelakaan GARUDA di Jogja, tentunya kita masih ingat dengan kejadian pesawat tipe yang sama yaitu Boeing 737-400 milik ADAM AIR. Sejak adanya penerbangan murah, pilihan saya selalu jatuh pada ADAM AIR, bukan karena pramugarinya cantik2 dan punya Friendster (itu sih kebetulan aja kalee…), tapi saya lebih melihat ke armada pesawatnya. Saya tau banget pesawat MD-85 punya LION, dan saya juga cukup ngerti bahwa Boeing 737-200 sudah banyak dilarang terbang di beberapa negara Amerika dan Eropa. Dan selama ini, alhamdulillah saya selalu terbang dengan armada 737-400 ADAM AIR.

Dan dimata saya, kecelakaan 2 pesawat ini (hardlanding ADAM & GARUDA) ada dalam kasus yang sama.

Pada saat melakukan pendaratan, pesawat harus melawan arah angin untuk mendapatkan pendaratan yang baik… nah, arah angin ini kadang datangnya bukan hanya dari depan, tapi bisa samping kiri/kanan atau juga dari belakang pesawat (tail-wind). Oleh karenanya ketika akan mendarat pilot akan selalu meminta kepada ATC (Air Traffic Control) tentang datangnya arah angin ini, data seakurat mungkin dari kecepatan angin hingga sudut datangnya arah angin serta kondisi kelembaban udara yang diakibatkan oleh angin ini, semua itu akan membantu sekaligus mendukung pendaratan yg diinginkan (biar selamat getu…..) dan pilot harus mendaratkan pesawatnya melawan arah angin.

Down-wind adalah angin yang berasal dari atas yg turun ke bawah dengan kecepatan yg kadang tidak terduga, saya pernah mengalaminya dan itu sangat membuat syok.
Down-wind yang bikin celaka ini, bukan hanya sering terjadi di Indonesia, banyak contoh2 kecelakaan yang terjadi di dunia bisa diakibatkan oleh down-wind ini. Jangankan pesawat sekecil 737, pesawat segede 747 aja bisa dihempaskan ke landasan (runway) akibat ulah si down-wind ini. Memang sih, seringnya down-wind ini terjadi akibat cuaca di sekitar bandara tidak menentu (baca: cuaca buruk). ADAM AIR yang melakukan hard-landing di Juanda, mendarat dalam kondisi cuaca hujan lebat. Dalam kondisi demikian memang harusnya pilot melakukan Hard-Landing kalo pesawat mau selamat sampai ujung landasan. Karena jika melakukan pendaratan yang normal, justru yg terjadi pesawat bisa melenceng dan bablas ke ujung landasan seperti yg terjadi pada MD-85 LION AIR di solo (masih ingat khannnn….)
Hard-landing dalam kondisi hujan lebat dan landasan berair berfungsi untuk menghindari AQUAPLANING, yaitu kondisi dimana saat mendarat, karena efek kecepatan pesawat yg diatas 200 KM/jam, maka roda pesawat akan diselimuti oleh air yg menggenang di landasan yang akibatnya roda tidak menyentuh aspal landasan dan untuk beberapa ratus meter ke depan keadaan pesawat “melayang” diatas air yg menggenang di landasan dan artinya fungsi rem sama sekali tidak berfungsi karena roda tidak menjejak ke aspal landasan.

Dalam hal GARUDA, beberapa saksi mengatakan pesawat sudah mendarat tetapi tiba2 pesawat seperti terlalu cepat dan pesawat terpental 3 kali (dalam bahasa gaul pilot, ini biasa disebut jumpy-landing), hal ini disebabkan karena adanya down-wind tersebut dan kemungkinan besarnya down-wind ini berasal dari arah belakang pesawat sehingga mendorong pesawat ke depan dan hal ini biasa sulit diantisipasi oleh pilot karena tahap ini sudah 99% landing. Kejadian ini bisa terjadi hanya sepersekian detik, dan antisipasi pilot untuk full-throttle (menambah penuh kecepatan pesawat) dan menutup flap yg sudah dalam kondisi full-flap-down menjadi ke posisi 20-degree untuk seterusnya naik, menanjak dan mencoba kembali mendarat sepertinya tidak cukup waktu dikarena beberapa hal, landasan terlalu pendek misalnya.

Ditambah lagi kemungkinan akibat jumpy-landing tadi menyebabkan beberapa struktur pesawat mengalami kerusakan. ADAM AIR cukup beruntung hanya bisa “bengkok” fuselage-nya (baca: badan pesawat) tanpa patah. Namun mungkin (sekali lagi mungkin) akibat jumpy-landing yg sampai 3x ini membuat engine pesawat GARUDA menggelosor landasan dan disaat yang sama beberapa struktur pada sayap mengalami keretakan akibat bantingan 3x tadi dan avtur yang terdapat di sepanjang pesawat-pun mengucur mengenai percikan api akibat gesekan cowling-engine (body mesin) ke landasan…. dan BOOOMMM, ledakanpun terjadi.
Pusat kebakaran terjadi pada engine yg menggantung pada sayap untuk sejurus detik kemudian mesin pesawat terlepas dan mental akibat impak dengan tanah yg tidak rata (baca: rerumputan pinggir landasan, jalan raya, pagar bandara, persawahan) akibatnya lubang bahan bakar kian menganga dan pada pesawat, SAYAP merupakan TANGKI BAHAN BAKAR. Akibatnya, kebakaran hebat pun tidak dapat dihindarkan dan membuat beberapa ledakan lanjutan.

Allah masih melindungi, dari 133 penumpang sebagian besar selamat dan itupun berkat pengetahuan yang diberikan sesaat sebelum pesawat take-off. Biasanya pramugari menunjukkan mana saja pintu darurat dan dalam penerbangan biasanya yg duduk di bagian pintu darurat harusnya laki2 dewasa yg (usia 20-30 tahun). Hal ini untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu (seperti kasus GARUDA ini), maka laki2 tersebut memiliki kekuatan untuk membuka pintu darurat.
Dalam beberapa penerbangan internasional, pramugari biasanya akan meminta untuk menukar tempat duduk jika kebetulan yg duduk di pintu darurat adalah manula/anak2 ditukar/pindah tempat duduk dengan lelaki dewasa.

Namun, ini adalah kecelakaan dan musibah… bicara secara agamis ini adalah kehendak Allah yg kita gak akan bisa menahannya, hanya Allah akan meminta kita bagaimana menyikapi kecelakaan ini dengan sikap yg tidak berburuk sangka dan mengambil hikmah dari kejadian tersebut. GARUDA adalah airline yg memiliki keketatan dalam maintenance pesawatnya, kesehatan dan performa crew-nya (terutama pilot). Jadi sekali lagi, mari kita sikapi musibah ini dengan tidak berburuk sangka dan menuduh beberapa pihak, namun ambil hikmah dibalik musibah ini dan hikmah yg positif tentunya.

1 Comment »

  1. pak mpiq ini mantan pilot ya? saya setuju dg pendapat bapak. pada kebanyakan kasus pihak berwenang (kntk, po, maskapai, polisi) sering menyalahkan pilot/sopir, human error gt deh. salam kenal n permisi nyatut blog

    Comment by Rad Marssy — August 25, 2007 @ 3:15 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: