Karena banwidth adalah kebutuhan !!!

March 9, 2007

Motret lagi…. hayuuuuk

Filed under: Hobi — mpiq @ 12:22 am

Duh, dah lama hobi yang satu ini kelupaan akibat terlalu lama ngurus warnet. Jadul dulu, saat saya masih pake kamera NIKON FE2 dan lensa Tele 28-300 rasanya udah wuihhhh banget… serasa jadi paparazi….. *halah-halah*

Akhirnya semenjak punya account di AyoFoto!  saya jadi terenyuh mau motret lagi, walaupun sebagian foto2 saya yg ada diweb ini hasil dari hape SE-K750i sayah, namun cukup mumpuni untuk dapet komentar dari member yang lain…. lumayan khan *nyengir-kuda*

Dan minggu besok, ada yg ngajak motret2 sunset dan motret2 model (kayaknya ga ngejar motret sunset-nya deh….. tapi bakal banyak motret modelnya… hehehehehe) di jatiluhur. ho oh di jatiluhur, sebuah tempat asing yang belom pernah saya kunjungi (padahal saya teh udah pernah ke beberapa gunung di sumatera & jawa). Nah ini g saya bingung dengan teman saya yg ngajak. Kok ya nyari sunset di jatiluhur….. knapa ga ke pantai aja yg lebih uendaaaaah getu……

Tapi ya sok aja mo dijabanin dulu lah, kamera NIKON FM2 dan tele-nya kayaknya bakal dipake lagi, walau nantinya bakal bete karena harus cuci cetak dan scan…. blom lagi nantinya kudu set diagfragma dan speed-shooter buat bikin hasil yg lumayan mumpuni untuk dikasih nilai oleh para member2 jagoan AF!

Jadi yah…. tunggu aja deh hasilnya abis hari minggu ini. Tapi ga saya aplot disini yah, liat aja di AF!

Lagi mikir2 mo beli kamera SLR digital….. kudu rajin menabung lagi dan mengurangi budget untuk belanja gadget yang ga jelas getu deh, yang intinya ga boleh sering2 ke mangga-dua mall….. takut napsu liat gadget2 yang baru dan bikin kanker….. hehehehehe

DownWind (Tailwind)… ADAM beruntung, GARUDA tidak…

Filed under: Analisa — mpiq @ 12:02 am

adam-patah.jpgga-crash.jpg

Mohon maaf, terutama kepada keluarga dari para penumpang Garuda Indonesia yang kecelakaan di Jogja, tulisan ini bukan untuk membela siapapun. Saya yang menulis ini ikut berbelasungkawa atas terjadinya musibah ini.

Dalam dunia penerbangan yang saya pelajari dan saya lakoni dulu, bahwa dalam sebuah penerbangan itu setiap detiknya selalu tidak lepas dari maut. Peribahasa bahwa “Selalu ada petaka bahkan dilangit yang luaspun” seakan menjadi pertanda bahwa kecelakaan bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan yang paling sering tanpa disadari.

Kembali ke kecelakaan GARUDA di Jogja, tentunya kita masih ingat dengan kejadian pesawat tipe yang sama yaitu Boeing 737-400 milik ADAM AIR. Sejak adanya penerbangan murah, pilihan saya selalu jatuh pada ADAM AIR, bukan karena pramugarinya cantik2 dan punya Friendster (itu sih kebetulan aja kalee…), tapi saya lebih melihat ke armada pesawatnya. Saya tau banget pesawat MD-85 punya LION, dan saya juga cukup ngerti bahwa Boeing 737-200 sudah banyak dilarang terbang di beberapa negara Amerika dan Eropa. Dan selama ini, alhamdulillah saya selalu terbang dengan armada 737-400 ADAM AIR.

Dan dimata saya, kecelakaan 2 pesawat ini (hardlanding ADAM & GARUDA) ada dalam kasus yang sama.

Pada saat melakukan pendaratan, pesawat harus melawan arah angin untuk mendapatkan pendaratan yang baik… nah, arah angin ini kadang datangnya bukan hanya dari depan, tapi bisa samping kiri/kanan atau juga dari belakang pesawat (tail-wind). Oleh karenanya ketika akan mendarat pilot akan selalu meminta kepada ATC (Air Traffic Control) tentang datangnya arah angin ini, data seakurat mungkin dari kecepatan angin hingga sudut datangnya arah angin serta kondisi kelembaban udara yang diakibatkan oleh angin ini, semua itu akan membantu sekaligus mendukung pendaratan yg diinginkan (biar selamat getu…..) dan pilot harus mendaratkan pesawatnya melawan arah angin.

Down-wind adalah angin yang berasal dari atas yg turun ke bawah dengan kecepatan yg kadang tidak terduga, saya pernah mengalaminya dan itu sangat membuat syok.
Down-wind yang bikin celaka ini, bukan hanya sering terjadi di Indonesia, banyak contoh2 kecelakaan yang terjadi di dunia bisa diakibatkan oleh down-wind ini. Jangankan pesawat sekecil 737, pesawat segede 747 aja bisa dihempaskan ke landasan (runway) akibat ulah si down-wind ini. Memang sih, seringnya down-wind ini terjadi akibat cuaca di sekitar bandara tidak menentu (baca: cuaca buruk). ADAM AIR yang melakukan hard-landing di Juanda, mendarat dalam kondisi cuaca hujan lebat. Dalam kondisi demikian memang harusnya pilot melakukan Hard-Landing kalo pesawat mau selamat sampai ujung landasan. Karena jika melakukan pendaratan yang normal, justru yg terjadi pesawat bisa melenceng dan bablas ke ujung landasan seperti yg terjadi pada MD-85 LION AIR di solo (masih ingat khannnn….)
Hard-landing dalam kondisi hujan lebat dan landasan berair berfungsi untuk menghindari AQUAPLANING, yaitu kondisi dimana saat mendarat, karena efek kecepatan pesawat yg diatas 200 KM/jam, maka roda pesawat akan diselimuti oleh air yg menggenang di landasan yang akibatnya roda tidak menyentuh aspal landasan dan untuk beberapa ratus meter ke depan keadaan pesawat “melayang” diatas air yg menggenang di landasan dan artinya fungsi rem sama sekali tidak berfungsi karena roda tidak menjejak ke aspal landasan.

Dalam hal GARUDA, beberapa saksi mengatakan pesawat sudah mendarat tetapi tiba2 pesawat seperti terlalu cepat dan pesawat terpental 3 kali (dalam bahasa gaul pilot, ini biasa disebut jumpy-landing), hal ini disebabkan karena adanya down-wind tersebut dan kemungkinan besarnya down-wind ini berasal dari arah belakang pesawat sehingga mendorong pesawat ke depan dan hal ini biasa sulit diantisipasi oleh pilot karena tahap ini sudah 99% landing. Kejadian ini bisa terjadi hanya sepersekian detik, dan antisipasi pilot untuk full-throttle (menambah penuh kecepatan pesawat) dan menutup flap yg sudah dalam kondisi full-flap-down menjadi ke posisi 20-degree untuk seterusnya naik, menanjak dan mencoba kembali mendarat sepertinya tidak cukup waktu dikarena beberapa hal, landasan terlalu pendek misalnya.

Ditambah lagi kemungkinan akibat jumpy-landing tadi menyebabkan beberapa struktur pesawat mengalami kerusakan. ADAM AIR cukup beruntung hanya bisa “bengkok” fuselage-nya (baca: badan pesawat) tanpa patah. Namun mungkin (sekali lagi mungkin) akibat jumpy-landing yg sampai 3x ini membuat engine pesawat GARUDA menggelosor landasan dan disaat yang sama beberapa struktur pada sayap mengalami keretakan akibat bantingan 3x tadi dan avtur yang terdapat di sepanjang pesawat-pun mengucur mengenai percikan api akibat gesekan cowling-engine (body mesin) ke landasan…. dan BOOOMMM, ledakanpun terjadi.
Pusat kebakaran terjadi pada engine yg menggantung pada sayap untuk sejurus detik kemudian mesin pesawat terlepas dan mental akibat impak dengan tanah yg tidak rata (baca: rerumputan pinggir landasan, jalan raya, pagar bandara, persawahan) akibatnya lubang bahan bakar kian menganga dan pada pesawat, SAYAP merupakan TANGKI BAHAN BAKAR. Akibatnya, kebakaran hebat pun tidak dapat dihindarkan dan membuat beberapa ledakan lanjutan.

Allah masih melindungi, dari 133 penumpang sebagian besar selamat dan itupun berkat pengetahuan yang diberikan sesaat sebelum pesawat take-off. Biasanya pramugari menunjukkan mana saja pintu darurat dan dalam penerbangan biasanya yg duduk di bagian pintu darurat harusnya laki2 dewasa yg (usia 20-30 tahun). Hal ini untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu (seperti kasus GARUDA ini), maka laki2 tersebut memiliki kekuatan untuk membuka pintu darurat.
Dalam beberapa penerbangan internasional, pramugari biasanya akan meminta untuk menukar tempat duduk jika kebetulan yg duduk di pintu darurat adalah manula/anak2 ditukar/pindah tempat duduk dengan lelaki dewasa.

Namun, ini adalah kecelakaan dan musibah… bicara secara agamis ini adalah kehendak Allah yg kita gak akan bisa menahannya, hanya Allah akan meminta kita bagaimana menyikapi kecelakaan ini dengan sikap yg tidak berburuk sangka dan mengambil hikmah dari kejadian tersebut. GARUDA adalah airline yg memiliki keketatan dalam maintenance pesawatnya, kesehatan dan performa crew-nya (terutama pilot). Jadi sekali lagi, mari kita sikapi musibah ini dengan tidak berburuk sangka dan menuduh beberapa pihak, namun ambil hikmah dibalik musibah ini dan hikmah yg positif tentunya.

March 2, 2007

Rugi gak sih kalo Warnet beli WINDOWS yang ASLI … ??

Filed under: Tentang Warnet — mpiq @ 5:51 pm

Walau teman-teman warnet sudah banyak yang melegalkan warnetnya, entah itu menggunakan OSS seperti LINUX atau PINUX, namun ada juga yang tetap menggunakan propriatery seperti WINDOWS.

Kebanyakan WINDOWS yang digunakan teman-teman warnet adalah Windows XP Home Edition bahkan masih banyak juga yang menggunakan Windows 98 Second Edition. Dengan harga kisaran sekitar Rp. 800.000,- (nyaris sama dengan harga sebuah Mainboard atau Prosesor AMD).

Tapi, ada beberapa teman yang menganggap rugi membeli Windows tersebut dengan berbagai alasan, seperti harganya yang mahal, tidakan hukumnya adalah delik aduan (padahal kalo sudah kena sweeping ga bisa argumen apa-apa sama polisi dan mengandalkan sodara yg militer atau…. bayar sama yg sweeping) dan aneka macam alasan yang lain dan pada ujungnya akan berkata … RUGI !!!!

Ya silahkan aja berkata begitu, tapi ya jangan pake BAJAKAN dong, pake yang udah dan bebas dipake seperti OSS, entah itu LINUX atau PINUX buatan anak bangsa. Jangan ogah beli Windows dengan alasan ini itu tapi malah pake Bajakan. Kalo memang berorientasi bisnis, ya gunakan jalan bisnis dan otak bisnis. Berbuat secara legal, patuh akan aturan yang ada dan harus yakin kalo Software itu termasuk dalam INVESTASI yang harus dimasukkan dalam hitungan Modal.

1. Harus pake OS apa warnet saya ?

Untuk mejawab pertanyaan diatas, yang pertama kali diperhatikan sebelum membuat warnet adalah KONSEP. Konsep apa yang akan warnetters gunakan. Apakah hanya sekedar warnet untuk browsing, chatting, friendster dan kirim-kirim email. Kalo konsep seperti ini, OS open-source seperti LINUX dan PINUX lebih cocok, karena selain investasi kecil (hanya modal 2 CD yang harganya ga sampe Rp. 20.000,- untuk semua PC) semua yang ada di OSS bisa melakukan hal-hal yang ada dalam konsep yang akan warnetters gunakan untuk warnetnya.

Nah, jika warnetter merasa ingin lebih untung karena banyak masyarakat yang lebih kenal dengan Windows, maka belilah yang ASLI dan masukkan dalam anggaran modal belanja Investasi. Harga Rp. 800.000,- cukup worthed, apalagi jika warnetters sudah membaca pasar yang ada (atau misalnya untuk membuka warnet cabang). Memang benar bahwa banyak yang memegang prinsip bisnis DENGAN MODAL KECIL MENGHASILKAN KEUNTUNGAN YANG BESAR, tapi hal tersebut harus dibarengi dengan LEGALITAS menjalankan bisnis itu. Legalitas itu bisa berupa mengikuti aturan lingkungan, daerah, pemerintah atau bahkan aturan negara. Dalam hal ini, LEGAL SOFTWARE termasuk didalamnya.

2. Mari kita berhitung …

Nah, untuk melihat apakah dengan OS asli kita akan UNTUNG atau BUNTUNG, mari kita berhitung dengan berpatokan pada OS Microsoft WINDOWS XP Home Edition. Kita berandai-andai akan membangun Warnet dengan KONSEP Internet Zone & Games Centre dengan jumlah PC sebanyak 50 unit dan pastinya sudah memiliki MSRA. Kita berandai-andai pula LOKASI warnet ini cukup strategis, anggap saja wilayah kampus, sekolah dan kost-an

  • Modal membeli Windows XP Home Edition = Rp. 800.000,- x 50 unit = Rp. 40.000.000,- yang artinya merupakan bagian dari Investasi awal.
  • Jika modal total Warnet sebesar Rp. 400.000.000,- maka jumlah untuk Investasi Pembelian Windows XP Home adalah kurang lebih 10 % dari Investasi WARNET.
  • Saya berpatokan pada rumus seorang sahabat saya yang juga memiliki 4 buah warnet, rumus sahabat saya itu adalah okupansi yang baik untuk Warnet (okupansi per PC sekitar 50%) adalah : Pemasukan Kotor (Gross) = Rp. 1.000.000,- /PC/Bulan.

Maka perhitungan pendapatan kotor / bulan adalah : Rp. 1.000.000,- x 50 PC = Rp. 50.000.000,- (namun saya yakin dengan PC sebanyak 50 unit dengan Konsep ini bisa mendapatkan lebih dari pendapatan rumus sahabat saya diatas) yang artinya akan mendapatkan lebih dari Rp. 50.000.000,- per bulan. Selanjutnya setelah didapat perhitungan pendapatan kotor, coba kita hitung berapa biaya pengeluaran per bulannya, seperti tercantum dibawah ini.

  • Beban biaya bandwith bulanan = Rp. 10.000.000,-
  • Beban listrik bulanan = Rp. 6.000.000,-
  • Beban gaji pegawai @ Rp. 700.000,- x 6 orang = Rp. 4.200.000,-
  • Biaya beban lain-lain = Rp. 1.000.000,-
  • Maka total perkiraan pengeluaran bulanan adalah Rp. 21.200.000,-
  • Yang berarti keuntungan bersih (PROFIT) dalam 1 bulan adalah Rp. 28.800.000,-
  • Rp. 28.800.000,- x 10 % = Rp. 2.880.000,- kemudian Rp. 40.000.000,- / Rp. 2.880.000 = 14 bulan.
  • Jadi, balik modal (B.E.P) dari Investasi Pembelian Windows XP Home adalah 14 bulan.

So… dengan perhitungan kasar diatas maka dalam 1 tahun 2 bulan Modal Investasi Pembelian Windows XP Home dan juga Modal Investasi WARNET sudah kembali (silahkan dihitung deh…) dan sisanya tinggal menunggu UNTUNG. Dengan Investasi Rp. 400.000.000,- lalu dengan kembali modal selama 1 tahun 2 bulan menurut saya itu sudah termasuk sangat bagus.

Jadi, tidak ada alasan khan untuk menggunakan WINDOWS BAJAKAN ……

~ Be LEGAL ~

Blog at WordPress.com.